Ahda. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

PERSEPSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

A. Latar Belakang
Banyak cara atau gaya dalam pengambilan keputusan. Ada orang yang cenderung menghindari masalah, ada juga yang berusaha memecahkan / menyelesaikan masalah, bahkan ada yang mencari-cari masalah. Pada prinsipnya, cara pengambilan keputusan mengacu pada bagaimana seseorang mengolah informasi, apakah lebih dominan menggunakan pikirannya, ataukah dengan perasaannya. Setelah semua informasi diperoleh melalui fungsi persepsi, maka seseorang harus melakukan sesuatu dengan informasi tersebut. Informasi tersebut harus diolah untuk memperoleh suatu kesimpulan guna mengambil suatu keputusan ataupun membentuk suatu opini. Ada gambaran preferensi mengenai dua cara yang berbeda tentang bagaimana seseorang mengambil keputusan ataupun memberikan penilaian, yaitu dengan berfikir menggunakan akal pikiran dan menggunakan perasaan atau dengan persepsi. .
Salah satu cara untuk mengambil keputusan adalah dengan mempergunakan perasaan dan persepsi. Perasaan disini bukan berarti emosi, melainkan dengan mempertimbangkan dampak dari suatu putusan terhadap diri sendiri dan/atau orang lain. Apakah manfaatnya bagi diri sendiri dan/atau orang lain (tanpa mempersyaratkan terlebih dahulu bahwa hal tersebut haruslah logis). Pengambilan keputusan atas dasar perasaan ini berlandaskan pada nilai-nilai pribadi atau norma-norma, dan bukan mengacu pada tindakan yang dapat disebut emosionil. Apabila kita mengambil keputusan berdasarkan perasaan, kita akan mempertanyakan seberapa jauh kita pribadi akan melibatkan diri secara langsung, seberapa jauh kita merasa turut bertanggung jawab terhadap dampak atas keputusan yang diambil, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Mereka yang mempunyai preferensi menggunakan perasaan dalam mengambil keputusan, cenderung bersikap simpatik, bijaksana dan sangat menghargai sesama. Banyak cara atau gaya dalam pengambilan keputusan.
B. Perumusan masalah
1. Apa pengertian persepsi
2. Beberapa isu mengenai persepsi orang
3. Bagaimana Hubungan antara persepsi dan pengambilan keputusan individual
4. Bagaimana proses pengambilan keputusan rasional
5. Bagaimana meningkatkan kreativitas dalam pengambilan keputusan

PEMBAHASAN
PERSEPSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDUAL
A. Pengertian persepsi
Rakhmat Jalaludin (1998: 51) berpendapat bahwa persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.
Menurut Ruch (1967: 300), persepsi adalah suatu proses tentang petunjukpetunjuk inderawi (sensory) dan pengalaman masa lampau yang relevan diorganisasikan untuk memberikan kepada kita gambaran yang terstruktur dan bermakna pada suatu situasi tertentu.
Atkinson dan Hilgard (1991: 201) mengemukakan bahwa persepsi adalah proses dimana kita menafsirkan dan mengorganisasikan pola stimulus dalam lingkungan.
Gibson dan Donely (1994: 53) menjelaskan bahwa persepsi adalah proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang individu.
Persepsi adalah suatu proses yang ditempuh individu-individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan. Namun apa yang merupakan persepsi seseorang dapat berbeda dari kenyataan yang objektif. Karena perilaku orang didasarkan pada persepsi mereka akan realitas, dan bukan pada realitas itu sendiri, maka persepsi sangat penting pula dipelajari dalam perilaku organisasi.
Dee Ann Gullies (1996) menjelaskan definisi pengambilan keputusan sebagai suatu proses kognitif yang tidak tergesa-gesa terdiri dari rangkaian tahapan yang dapat dianalisa, diperhalus, dan dipadukan untuk menghasilkan ketepatan serta ketelitian yang lebih besar dalam menyelesaikan masalah dan memulai tindakan. Definisi yang lebih sederhana dikemukakan oleh Hani Handoko (1997), pembuatan keputusan adalah kegiatan yang menggambarkan proses melalui mana serangkaian kegiatan dipilih sebagai penyelesaian suatu masalah tertentu.
B. Beberapa Isu Mengenai Persepsi Orang
Teori Atribusi pada dasarnya mengungkapkan bahwa bila individu mengamati perilaku, mereka mencoba menentukan apakah itu disebabkan faktor internal atau eksternal. Misalnya saja persepsi kita terhadap orang akan dipengaruhi oleh penyebab-penyebab internal karena sebagai manusia mereka mempunyai keyakinan, maksud, dan motof-motif didalam dirinya. Namun persepsi kita terhadap benda mati seperti gedung, api, air, dll, akan berbeda karena mereka adalah benda mati yang memiliki hukum alamnya sendiri (eksternal).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi, yaitu :
1. Pelaku persepsi : penafsiran seorang individu pada suatu objek yang dilihatnya akan sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadinya sendiri, diantaranya sikap, motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu, dan pengharapan. Kebutuhan atau motif yang tidak dipuaskan akan merangsang individu dan mempunyai pengaruh yang kuat pada persepsi mereka.
2. Target : Gerakan, bunyi, ukuran, dan atribut-atribut lain dari target akan membentuk cara kita memandangnya. Misalnya saja suatu gambar dapat dilihat dari berbagai sudut pandang oleh orang yang berbeda. Selain itu, objek yang berdekatan akan dipersepsikan secara bersama-sama pula. Situasi : Situasi juga berpengaruh bagi persepsi kita. Misalnya saja, seorang wanita yang berparas lumayan mungkin tidak akan terlalu ‘terlihat’ oleh laki-laki bila ia berada di mall, namun jika ia berada dipasar, kemungkinannya sangat besar bahwa para lelaki akan memandangnya.
Penentuan apakah perilaku itu merupakan penyebab eksternal atau internal bergantung pada tiga faktor :
· Kekhususan : apakah seorang individu memperlihatkan perilaku yang berlainan dalam situasi yang berlainan.
· Konsensus : yaitu jika setiap orang yang menghadapi situasi serupa bereaksi dengan cara yang sama.
· Konsistensi : apakah seseorang memberikan reaksi yang sama dari waktu ke waktu.
Salah satu penemuan yang menarik dari teori ini adalah bahwa ada kekeliruan atau prasangka (bias, sikap berat sebelah) yang menyimpangkan atau memutar balik atribusi. Bukti mengemukakan bahwa kita cenderung meremehkan pengaruh faktor dari luar dan melebih-lebihkan pengaruh faktor internal. Misalnya saja, penurunan penjualan seorang salesman akan lebih dinilai sebagai akibat dari kemalasannya daripada akibat kalah saing dari produk pesaing.
Ada beberapa teknik dalam menilai orang yang memungkinkan kita membuat persepsi yang lebih akurat dengan cepat dan memberikan data yang valid (sahih) untuk membuat ramalan. Namun teknik-teknik ini akan menceburkan kita dalam kesulitan karena tidak ‘foolproof’. Karena itu, pemahaman akan jalan pintas ini dapat membantu kita mewaspadai bila teknik-teknik ini menghasilkan distorsi.
· Persepsi selektif : orang-orang secara selektif menafsirkan apa yang mereka saksikan berdasarkan pengalaman, latar belakang, kepentingan, dan sikap. Hal ini dikarenakan kita tidak dapat mengamati semua yang berlangsung disekitar kita. Misalnya saja, seperti diatas tadi, orang yang menyenangi hasil seni akan cenderung memperhatikan lukisan daripada orang yang menyenangi teknologi.
· Efek halo : yaitu menarik kesan umum mengenai seorang individu berdasarkan suatu karakteristik tunggal, misalnya pendiam, sangat bersemangat, pintar, dls. Orang yang menilai dapat mengisolasi hanya karakteristik tunggal. Suau ciri tunggal dapat mempengaruhi seluruh kesan oarng dari individu yang sedang dinilai.
· Efek kontras : yaitu evaluasi atas karakteristik-karakteristik seseorang yang dipengaruhi oleh pembandingan-pembandingan dengan orang lain yang baru saja dijumpai yang berperingkat lebih tinggi atau lebih rendah pada karakteristik yang sama. Contohnya adalah orang yang diwawancara dapat memperoleh evaluasi yang lebih menguntungkan jika sebelumnya ia telah didahului oleh banyak pelamar yang kurang bermutu.
· Proyeksi : Yaitu menghubungkan karakteristik kita sendiri ke orang lain. Misalnya saja orang yang bekerja dengan cepat dan ulet akan menganggap orang lain sama dengannya.
· Berstereotipe : yaitu menilai seseorang bedasarkan persepsi seorang terhadap kelompok seseorang itu. Misalnya kita menilai bahwa orang yang gemuk malas, maka kita akan mempersepsikan semua orang gemuk secara sama. Generalisasi seperti ini dapat menyerdehanakan dunia yang rumit ini dan memungkinkan kita mempertahankan konsistensi, namun sangat mungkin juga bahwa stereotipe itu tidak mengandung kebenaran ataupun tidak relevan.

C. Hubungan Antara Persepsi Dan Pengambilan Keputusan Individual
Pengambilan kuputusan individual, baik ditignkat bawah maupun atas, merupakan suatu bagian yang penting dari perilaku organisasi. Tetapi bagaimana individu dalam organisasi mengambil keputusan dan kualitas dari pilihan mereka sebagiah besar dipengaruhi oleh persepsi mereka. Pengambilan keputusan terjadi sebagai suatu reaksi terhadap suatu masalah. Terdapat suatu penyimpangan antara suatu keadaan dewasa ini dan sesuatu keadaan yang diinginkan, yang menuntut pertimbangan arah tindakan alternatif. Misalnya, seorang manager suatu divisi menilai penurunan penjualan sebesar 2% sangat tidak memuaskan, namun didivisi lain penurunan sebesar itu dianggap memuaskan oelh managernya.
Perlu diperhatikan bahwa setiap keputusan menuntut penafsiran dan evaluasi terhadap informasi. Karena itu, data yang diterima perlu disaring, diproses, dan ditafsirkan. Misalnya, data mana yang relevan dengan pengambilan keputusan. Persepsi dari pengambil keputusan akan ikut menentukan hal tersebut, yang akan mempunyai hubungan yang besar pada hasil akhirnya.

D. Proses Pengambilan Keputusan Rasional
Pengambil keputusan harus membuat pilihan memaksimalkan nilai yang konsisten dalam batas-batas tertentu. Ada enam langkah dalam model pengambilan keputusan yang rasional, yaitu : menetapkan masalah, mengidentifikasi kriteria keputusan, mengalokasikan bobot pada kriteria, mengembangkan alternatif, mengevaluasi alternatif, dan memilih alternatif terbaik.
Model pengambilan keputusan yang rasional diatas mengandung sejumlah asumsi, yaitu :
§ Kejelasan masalah : pengambil keputusan memiliki informasi lengkap sehubungan dengan situasi keputusan.
§ Pilihan-pilihan diketahui : pengambil keputusan dapat mengidentifikasi semua kriteria yang relevan dan dapat mendaftarkan semua alternatif yang dilihat.
§ Pilihan yang jelas : kriteria dan alternatif dapat diperingkatkan sesuai pentingnya.
§ Pilihan yang konstan : kriteria keputusan konstan dan beban yang ditugaskan pada mereka stabil sepanjang waktu.
§ Tidak ada batasan waktu dan biaya : sehingga informasi lengkap dapat diperoleh tentang kriteria dan alternatif.
§ Pelunasan maksimum : alternatif yang dirasakan paling tinggi akan dipilih.

E. Meningkatkan Kreativitas Dalam Pengambilan Keputusan
Dengan adanya kreativitas pengambil keputusan dapat memproduksi gagasan-gagasan baru yang bermanfaat. Selain itu, juga memungkinkan untuk lebih menghargai dan memahami masalah, termasuk masalah yang tidak dapat dilihat orang lain.
1. Potensial kreatif : yaitu potensi yang dimiliki kebanyakan orang, namun untuk mengeluarkannya orang harus keluar dari kebiasaan psikologis yang kebanyakan dari kita terlibat didalamnya dan belajar bagaimana berpikir tentang satu masalah dengan cara yang berlainan.
2. Model kreativitas tiga komponen : suatu badan riset menunjukkan bahwa kreativitas individual pada hakikatnya menuntut keahlian, ketrampilan berpikir kreatif, dan motivasi tugas intrinsik. Semakin tinggi tingkat dari masing-masing komponen ini, maka semakin tinggi pula kreativitas seseorang.
Kebanyakan keputusan dalam organisasi biasanya diambil seperti dibawah ini :
· Rasionalitas terbatas : para individu mengambil keputusan dengan merancang bangun model-model yang disederhanakan yang menyuling ciri-ciri hakiki dari masalah tanpa menangkap semua kerumitannya. Bila berhadapan pada masalah yang kompleks, kebanyakan orang menanggapi dengan mengurangi masalah pada level amna masalah itu dapat dipahami. Ini disebabkan karena kemampuan manusia mengolah informasi terbatas, membuatnya tidak mungkin mengasimilasi dan memahami semua informasi yang perlu untuk optimisasi.
· Intuisi : penggunaan intuisi untuk mengambil keputusan tidak lagi diangap tak rasional atau tak efektif. Ada pengakuan yang makin berkembang bahwa analisis rasional terlalu ditekankan dan bahwa dalam kasus-kasus tertentu mengandalkan pada intuisi dapat memperbaiki pengambilan keputusan. Namun perlu dilihat bahwa definisi intuitif dari para ahli adalah suatu proses tak sadar yang diciptakan dari dalam pengalaman yang tersaring. Intuisi ini juga saling melengkapi dengan analisi rasional. 
· Identifikasi masalah : masalah yang tampak cenderung memiliki probabilitas terpilih lebih tinggi dibanding masalah-masalah yang penting. Ada dua alasan atas hal tersebut : mudah untuk mengenal masalah-masalah yang tampak, dan karena kita prihatin dengan pengambilan keputusan dalam organisasi sehingga para pengambil keputusan ingin tampil kompeten dan ‘berada pada puncak masalah’.
· Pengembangan alternatif : bukti menunjukkan bahwa pengambilan keputusan adalah inkremental, bukan komprehensif. Artinya pengambil keputusan mengindari tugas-tugas sulit yang mempertimbangkan semua faktor penting, menimbang relatif untung dan ruginya, serta mengkalkulasi nilai untuk masing-masing alternatif. Sebagai gantinya, mereka membuat suatu perbandingan terbatas yang bersifat suksesif. Akibatnya pilihan keputusanpun disederhanakan dengan hanya membandingkan alternatif-alternatif yang berbeda dalam tingkat yang relatif kecil dari pilihan terbaru.
· Membuat pilihan : untuk menghindari keputusan yang terlalu sarat, para pengambil keputusan mengandalkan heuristik atau jalan pintas penilaian dalam pengambilan keputusan. Ada dua kategori umum heuristik dan satu bias lainnya, yaitu :
1. Heuristik ketersediaan : kecenderungan pada orang untuk mendasarkan penilaian pada informasi yang sudah ada ditangan mereka. Ini menjelaskan mengapa para manager lebih mempertimbangkan kinerja terakhir karyawan daripada kinerjanya setengah tahun yang lalu. Sama halnya dengan pikiran orang bahwa naik pesawat lebih berbahaya daripada mobil.
2. Heuristik representatif : menilai kemungkinan dari suatu kejadian dengan menarik analogi dan melihat situasi identik dimana sebenarnya tidak identik. Contohnya adalah manager yang sering menghubungkan keberhasilan suatu produk baru dengan keberhasilan produk sebelumnya, anak-anak yang menonton film Superman dan merasa dirinya seperti Superman, dls.
3. Peningkatan komitmen : suatu peningkatan komitmen pada keputusan sebelumnya meskipun ada informasi negatif. Individu meningkatkan komitmen terhadap suatu arah tindakan yang gagal ketika mereka memandang diri mereka sebagai orang yang bertanggung jawab atas kegagalan tersebut, dengan tujuan untuk memperlihatkan bahwa keputusan awal mereka tidak keliru dan menghindari keharusan untuk mengakui kekeliruan itu. Banyak organisasi menderita kerugian karena seorang manager bertekad membuktikan bahwa keputusan awalnya benar dengan terus mengorbankan sumber daya kepada apa yang merupakan kerugian sejak awal.
4. Perbedaan individual-gaya pengambilan keputusan : riset mengidentikasikan empat pendekatan individual yang berbeda dalam pengambilan keputusan, yaitu :
ü Analitis : memiliki toleransi jauh lebih besar terhadap ambiguitas, cermat, mampu menyesuaikan diri dengan situasi baru.
ü Direktif : memiliki toleransi rendah atas ambiguitas, mencari rasionalitas, efisien, logis, mengambil keputusan cepat, dan berorientasi jangka pendek.
ü Konseptual : berpandangan sangat luas, mempertimbangkan banyak alternatif, orientasi jangka panjang, dan anagt baik untuk menemukan solusi yang kreatif.
ü Perilaku : bisa bekerja baik dengan yang lain, memperhatikan kinerja rekan kerja dan usulan-usulan mereka, mengandalkan pertemuan untuk berkomunikasi, mencoba menghindari konflik, dan mengupayakan penerimaan.
Kebanyakan dari manager memiliki karakteristik diatas lebih dari satu.
· Hambatan dari organisasi : para manager akan membentuk keputusan sesuai dibawah ini :
ü Evaluasi kinerja : manager dipengaruhi oleh kriteria yang mereka gunakan untuk mengevaluasi. Mereka akan bertindak sesuai apa yang dijadikan penilaian/tolok ukur.
ü Sistem imbalan : yaitu dengan mengemukakan kepada karyawan pilihan apa yang lebih disukai terhadap upah. Umumnya organisasi membuat peraturan formal untuk membakukan perilaku anggotanya.
ü Pembatasan waktu yang menentukan sistem : batas waktu yang eksplisit dalam pengambilan keputusan menciptakan tekanan waktu pada pengambil keputusan dan sering mempersulit untuk mengumpulkan semua informasi yang ingin merka dapatkan.
ü reseden historis : keputusan yang diambil dimasa lalu akan terus membayangi keputusan saat ini.
· Perbedaan budaya : latar belakang budaya dari pengambil keputusan dapat mempengaruhi seleksi masalah, kedalaman analisis, arti penting yang ditempatkan pada logika dan rasionalitas, atau apakah keputusan organisasional hendaknya diambil secara otokratis atau secara kolektif.

Bagian terakhir adalah mengenai keetisan dalam pengambilan keputusan. Ada tiga kriteria keputusan yang etis, yaitu :
· Kriteria utilitarian (dimana keputusan diambil semata-mata atas dasar hasil/konsekuensi mereka).
· Menekankan pada hak dasar individu sesuai dengan Piagam Hak Asasi.
· Menekankan pada keadilan.

ANALISIS JURNAL

Suatu proses yang ditempuh individu-individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan. Namun apa yang merupakan persepsi seseorang dapat berbeda dari kenyataan yang objektif. Karena perilaku orang didasarkan pada persepsi mereka akan realitas, dan bukan pada realitas itu sendiri, maka persepsi sangat penting pula dipelajari dalam perilaku organisasi.
Ada alasan mengapa persepsi perlu dipertimbangkan:
· Pengetahuan organisasi yang terjadi di tingkat konseptual. Konsep-bangunan sebagai menentukan titik awal proses.
· Users kontak dan berkomunikasi dengan sistem pencarian informasi kebanyakan melalui antarmuka (web).
· Jumlah pengguna meningkat dengan cepat dan sebagian besar orang-orang ini tidak memiliki pengalaman dan metode mencari, mereka membawa masalah baru yang dekat kaitannya dengan persepsi.
· Transformasi dari alat-alat pencarian informasi tradisional diperlukan dalam OPAC dan web lingkungan.
· Diperlukan untuk memeriksa teori persepsi dan kognisi.
Ada banyak contoh-contoh historis dan modern yang mewakili persepsi, mirip kucing duduk di depan lubang tikus. Gambar ini melambangkan bagaimana persepsi - dari sudut pandang dari mouse - kunci dari unsur-unsur lingkungan untuk mencerminkan keadaan, mouse dalam kelangsungan hidupnya. Perhatikan bagaimanapun juga harus tidak terfokus. Ada yang lebih optimal tingkat persepsi. Orang memahami berkonsentrasi pada tugas dan terus mengawasi simbol, tanda referensi, niat, pengalaman, dan perubahan melibatkan baik di dalam dan di luar situasi. Perwakilan oleh kognitif / proses persepsi atau oleh linguistic proses bagi Freud kemampuan untuk mengubah persepsi konkret ke konsep abstrak didasarkan terutama pada proses bahasa dan linguistik, dalam kesamaan dengan teori-teorinya tentang penafsiran mimpi.
Persepsi dan simbol linguistik dalam teori tersusun berbeda. Perseptual simbol masukan yang diterima secara langsung. Simbol linguistik ditularkan sebagai disandikan atau berbasis bahasa. Menurut ini menunjukkan bahwa pengetahuan organisasi bahasa berbasis linguistic pada umumnya.
Kelebihan dari teori persepsi:
· homogen perwakilan dari persepsi pertama.
· logis dan visualisasi yang jelas.
· tingkat tinggi standar pengolahan data dan pengambilan informasi.
Kelebihan dari teori linguistik:
· Umum, diketahui, dan dimengerti symbol.
· Validasi dari setiap proses kognitif.
· Simbol-simbol yang berkomunikasi secara langsung dan seketika.
Apa ciri dari simbol-simbol kognitif / persepsi dan proses linguistik?
Kognitif / persepsi simbol:
· Apakah modal, termasuk proprioseptif introspektif dan pengalaman.
· Apakah analog.
· Dicirikan oleh metode komunikasi dan transmisi.
· Menerima perwakilan mereka sesuai dengan sistem perseptual dan dampaknya.
· Mengembangkan baik secara simultan dan secara paralel dengan perwakilan.
· Memiliki representasi dinamis; pembangunan simbol terbuka tidak tertutup, karena simbol berubah dan memperbaiki terus-menerus.
· Dapat menyampaikan segala esensi, aspek, atau perasaan dalam pikiran, dengan cara kategorisasi dan "karakterisasi formal". (Logis dan jelas visualisasi datang dari karakteristik ini.)
Pengalaman visual berhubungan dengan simbol-simbol visual terutama pengalaman pendengaran berhubungan dengan simbol. Simbol lain datang dari berbagai modus.
Linguistik simbol:
· Tidak ada modal.
· Abstrak.
· Cenderung membakukan pengalaman atau membuat seragam.
· Didasarkan pada manusia "keputusan" independen dari lingkungan, sewenang-wenang.
· Mengembangkan secara berurutan.
· Terpisah dan statis.
· Pilihan informasi dan mewakili sebagai daftar entitas (Lehmann, 1999).
Salah satu yang paling penting kontribusi dari Humberto Maturana adalah teori bahasa. Untuk Maturana, bahasa sebagai fenomena kehidupan manusia berpartisipasi dalam sejarah evolusi. Manusia (dan diperdebatkan beberapa primata lain) adalah hewan ditandai dengan hidup secara bersamaan dalam dua dimensi pengalaman: pertama, dalam dimensi langsung bereaksi terhadap realitas eksternal - apa yang terjadi pada kita – dan kedua (unik bagi manusia dan mungkin beberapa primata lain) dalam dimensi penjelasan, yang menggunakan bahasa. Hanya dengan bahasa, misalnya, melakukan hal seperti kategori sebagai "baik" dan "buruk" atau "keadilan" dan "ketidakadilan" akan tersedia untuk membantu kami dalam memahami dan menjelaskan realitas eksternal. (Ruiz, 1998) Langkah pertama dengan mana simbol perseptual diterima terjadi di tengah sistem saraf. Aktivasi sampel berkembang di berbagai bagian korteks. Didirikan simbol tiba di memori jangka panjang. Dalam makalah ini, terdapat keterbatasan waktu dan ruang untuk mengobati sepenuhnya masalah produksi, menyusun, dan mewakili konsep-konsep abstrak atau untuk membayar perhatian memadai terhadap kasus-kasus yang relevan.
Representasi, seperti konsep, selalu dalam konteks:
· Representasi linguistik berada dalam lingkungan bahasa lokal.
· Persepsi representasi "dalam konsep" Oleh karena itu konsep-konsep menjadi model dengan berbagai spesialisasi. Konsep mobil akan memiliki spesialisasi mengenai jenis, warna, pemilik, kecepatan, pembelian, parkir, gerakan, dll (Lehmann, 1999).
Sistem yang mengikhtisarkan membangun konteks serupa dengan operator primer dan sekunder. Visualisasi, imajinasi - perumpamaan visual. Persepsi dan visualisasi mental melampirkan perumpamaan visual. Ada idiom ekspresi: sesuatu yang muncul "dalam mata themind". Apa artinya itu? Ada beberapa peneliti yang berpikir bahwa representasi piktorial tidak hanya peta benda-benda nyata, tapi bukan refleksi dari pikiran manusia yang membuat mereka. Walaupun visualisasi adalah Common tindakan thatwedo hampir everyminute, namun teori of mental gambar, serta proses penuh kognisi, belum dipahami dengan baik. Citra visual memainkan peran yang penting peran mental atau intelektual, yang seperti informasi atau pemrosesan data, memori, belajar, berpikir abstrak, dan pemahaman linguistik.
Visual persepsi adalah proses yang kompleks. Ini dimulai dengan sensasi, tapi setelah itu visualisasi menjadi sangat individual. Persepsi tergantung, misalnya, pada pengalaman, pengetahuan, kognisi, atau sistem kami simbol-simbol. Proses ini secara eksplisit, bertingkat dan simbolis karya pikiran. Mungkin ada visual yang optimal interpretasi, menurut Crick dan Koch. Salah satu cara untuk menjelaskan interpretasi visual oleh bagaimana manfaat penafsiran penerjemah manusia secara biologis. Gambaran visual, ilmu pengetahuan, dan visualisasi ilmiah "Visual titik balik" menggambarkan hubungan ilmu pengetahuan untuk gambar visual (Mitchell, 1994). Sebagai teknologi komunikasi baru dan TI telah muncul, sehingga memiliki misi gambar berubah dan berkembang. Gambar memainkan peran baru dalam bidang ilmu pengetahuan juga, meskipun gambar, gambar dan diagram yang pasti bukan topik baru untuk kajian ilmiah (Mitchell, 1994, hal 11).
Apa masalah ilmiah yang diangkat oleh bersama baru visual persepsi dan teknologi informasi dan komunikasi?
Berikut adalah beberapa kemungkinan:
ü Apakah spesialis dalam organisasi pengetahuan perlu mempertimbangkan informasi bergambar dan proses pencitraan visual.
ü Apakah representasi visual memiliki sifat yang berbeda dari teks tradisional denotasi dan argument.
ü Bagaimana orang mengelompokkan dan menunjukkan unsur-unsur visual dokumen ilmiah.
ü Perumpamaan visual akan membantu dalam pengetahuan organisasi.
ü Apa metode visual dapat digunakan oleh pustakawan di OPAC dan interface.
ü Apa kemungkinan melakukan foto dan gambar yang ada dalam organisasi pengetahuan.
Persepsi akses pengetahuan organisasi dan pengambilan informasi. Setiap simbolis konsep-bangunan adalah variabel. Dalam pengetahuan organisasi, salah harus memilih kriteria-kriteria tersebut, karakteristik, dan konseptual dan semantik elemen yang menimbulkan gambar yang sama dalam pikiran semua pengguna dari setiap informasi pengambilan sistem. Pustakawan harus membedakan unsur-unsur semantik dari linguistic simbol, baik yang menentukan dan menjadi ciri konsep beton. Bagaimana perancang sistem dapat mengoptimalkan baik kualitas dan kuantitas semantic unsur?
Apakah cukup untuk memilih elemen-elemen konseptual yang baik dan menciptakan sebuah konsep rantai dan struktur dari mereka? Bagaimana itu dilakukan? Bagaimana informasi manajemen berbeda dari pengetahuan manajemen?
Tujuan organisasi pengetahuan adalah penyimpanan dan perolehan kembali informasi. Setidaknya ada dua sisi yang berbeda persepsi akses informasi Pengambilan:
1. Pengguna, yang perlu untuk mendapatkan informasi dan untuk berkomunikasi dengan database melalui antarmuka.
2. Produsen dan pemasok, yang ingin memberikan pengguna dengan konten, melalui
mudah digunakan, jelas dan sistem fleksibel.



Dan dapat disimpulkan bahwa bagi pustakawan dan informasi spesialis untuk menarik paralel antara semantik dan kognitif hubungan dan proses? Pustakawan perlu untuk mengidentifikasi ciri semantik yang merangsang gambar konseptual yang serupa baik dalam pikiran dari pustakawan dan dalam pikiran pengguna. Untuk perspektif yang segar, pemahaman persepsi diperlukan juga.


REFERENSI

P. Robbins, Stephen, “Perilaku Organisasi”, Prentice Hall, 2001, Jilid 1 Bab 5
Tunggal, Amin Widjaja. Kamus Manajemen SDM dan Perilaku Organisasi. 1997. Jakarta: Rineka Cipta

Luthans,Fred. Perilaku Organisasi. 2006. Jakarta: Penerbit Andi

http://astaqauliyah.com/2005/04/20/teori-teori-pengambilan-keputusan/

http://id.wikipedia.org/wiki/Kognisi

http://mulyono.staff.uns.ac.id/2009/02/09/pengambilan-keputusan/

http://yasinta.wordpress.com/2008/09/04/persepsi-dan-pengambilan-keputusan-individual/.

http://www.scribd.com/doc/8497145/14Proses-Pengambilan-Keputusan-Dan-Karir

http:///www.translate.google.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan Lupa Komen...!!!